Senin, 22 Juli 2013

PRAJURIT TANGGUH

Posted by Unknown On 21.25
(Cerita 10: Oleh Akbar septriyan)

Pagi yang indah di sebuah desa yang bernama “ Desa Chang An “, Mentari bersinar cerah menerangi desa yang indah tersebut, menembus rimbunnya pepohonan yang berada  di bukit desa Chang An, tidak jauh dari bukit tersebut terdapat jembatan yang  menjadi jalan penghubung bagi penduduk yang akan melewati sungai deras, dan disana terdapat salah satu rumah penduduk yang sederhana, rumah tersebut terbuat dari kayu, rumah tersebut hiduplah seorang pemuda yang hidup sebatangkara bernama Zhao , ayah dan ibunya telah meninggal dunia, dia adalah seorang pemuda yang berbadan tegap, santun, serta cerdas
Pada hari itu dia bermaksud pergi ke pasar untuk membeli kebutuhannya, tibatiba dia mendengar sesuatu “  ayo silahkan bergabung dengan pasukan kerajaan, silahkan mendaftar bagi siapa saja yang ingin ikut ! ”, teriak salah seorang prajurit , dia pun tertarik dan mendaftar menjadi pasukan perang tersebut. Pada suatu hari desa mereka diserang oleh desa lain, pasukan perang segera disiapkan, sebuah pertempuran sengit pun tak dapat dielakkan, pertempuran tersebut dipimpin oleh komandan Feng Liu  pada pertempuran tersebut Zhao di tempatkan dalam pasukan yang bertugas untuk memasak makanan untuk persediaan perang, ketika pasukan Feng Liu mulai terdesak, Zhao langsung terjun ke medan perang, dia dengan gagahnya memukul mundur pasukan yang menyerang desanya tersebut, moral prajurit yang tadinya lemah, seketika langsung berubah karena sikap heroik yang diperlihatkan oleh Zhao, para prajurit terus memukul pasukan musuh yang jumlahnya lebih banyak, dan mereka berhasil mengusir prajurit yang meyerang desa mereka.
Raja kemudian berterima kepada para prajurit yang dengan gagah berani mempertahankan desa mereka dari serangan yang mengancam wilayah desa mereka, dan raja juga memberikan tanda kehormatan kepada komandan Feng Liu atas keberhasilannya memimpin pasukan, Fang liu mengaku bahwa dirinya bertanrung dengan sangat gagah, berani dan pantang menyerah, setelah peristiwa penyerangan desa mereka , peperangan demi peperangan mereka hadapi, dan mereka selalu menang dalam peperangan tersebut, sang raja terus memuji kehebatan Feng liu dalam memimpin pasukannya , padahal raja selama inin tidak mengetahui bahwa sebenarnya Zhao lah yang telah berjuang gagah berani yang meyebabkan moral prajurit menjadi kuat sehingga bisa mengalahkan musuh-musuh nya
Suatu hari sang raja mengajak Feng liu beserta beberapa pasukannya, dan pada waktu itu Feng Liu mengajak Zhao untuk ikut berburu bersamanya, saat sedang asyik berburu tanpa sadar seekor beruang yang besar tiba-tiba menyerang mereka, semua orang menjadi panik dan lari kocar-kacir melihat beruang yang besar dan tampak ganas tersebut, karena panik, raja terjatuh dari kudanya, dan kakinya terkilir ”Feng liu, tolong aku, kaki ku terkilir” kata raja, tetapi apa kata Feng liu,”Maaf saja raja, aku lebih mementingkan nyawaku daripada harus mati menolongmu”, ketika raja meminta pertolongannya, dia malah  dengan gelabakan memacu kudanya untuk berlari menyelamatkan diri, disaat beruang tersebut  mencoba mencakar raja, tiba-tiba sebuah kapak melayang tepat ke leher beruang tersebut, orang yang melempar kapak tersebut tidak lain adalah Zhou, akhirnya beruang tersebut tumbang, kemudian Zhou berlari menyelamatkan raja, ” Terima kasih prajurit, kau telah menyelamatkan nyawaku, kalau aku boleh tahu, Siapakah namamu ?” kata raja, “ Melindungimu sudah merupakan kewajibanku raja, Namaku Zhou” Balas Zhou, tak lama kemudian salah satu prajurit lainnya datang, prajurit tersebut bercerita kepada raja, bahwa selama ini Zhou lah yang dengan gigih melwan musuh dalam perang, sementara Feng Liu hanya bersembunyi di balik pos perkemahan sambil menunggu datangnya hasil perang, sementara Zhao terus sibuk memimpin pasukannya melawan musuh-musuhnya, setelah melalui perjalanan yang cukup lama, akhirnya raja sampai di istana, sesampainya di istana, raja memanggil Feng liu, kemudian memecatnya sebagai komandan perang dan menggantikannya dengan Zhou, dan selama Zhou menjadi komandan pasukan, desanya menjadi aman dan tentram dari serangan desa lain.

Cerita ini terbagi menjadi 31 cerita yang merupakan karya tangan anak-anak kelas XA SMAN 1 Pemali. Cerita ini saya buat untuk mengenang masa-masa indah bersama teman-teman di sekolah. Mudah-mudahan nanti akan saya publikasikan juga Cerpen karya anak-anak XB.


Tetap bersama baygag karena blog ini akan terus di update  :)

Temukan 31 Seri cerita lengkapnya!!! klik di sini 

FIRASAT

Posted by Unknown On 21.20

(Cerita 9: Oleh Akbar Ramadhan)

Miaaaaa bangunnn sudah pagi!!!! 
Kalimat itu merupakan yang selalu ku dengar ketika aku bangun kesiangan . tapi entah kenapa pagi ini aku tak tak mendengar suara itu. Aku senag tapi aku juga merasa aneh karena suara itulah yang selalu menemani pagiku. Pagi itu ketika ku meliat kearah suara yang biasa aku dengar, terlihat wanita tua yang terlihat lemas di atas tempat tidurnya . wanita itu adlah ibuku yang selalu membangunkanku ketika aku telat bangun pagi. Tapi entah mengapa pagi ini ia hanya terbaring lemas di tempat tidurnya dan tak bias berbuat apa-apa . aku pun mencoba untuk menghampirinya.
“ ibu kenapa? sakit ya?” tanyaku
“Huk….huk…..huk  ibu ngak kenapa- napa hanya batuk biasa karena ibu kemarin kehujan ketika pulang kerja” jawab ibuku sengan suara yang agak serk
“  aku kira ibu kenapa- napa” lanjut ku
“ ya udah lah nagk usah di pikirkan lebih baik kamu sekolah gih entar kamu telat. Ini uang untuk kamu jajan soalnya ibu lupa buat makanan” suruh ibuku
Aku pun mengambil uang yang diberikan ibuku dan langsung pergi  kesekolah. Sebenarnya aku berat hati meninggalkan ibuku seorang diri dirumah dan tak ada yang menemani. Makluma ayahku sudah lama bercerai dengan  ibu jadi hanya ibu yang selama ini mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami. Ayahku pun tak pernah memberi kabar bahkan aku tak mengenal siapa ayahku ( ibu dan ayahku bercerai ketika aku berumur 2 tahun).
Akhirnya aku tiba di sekolah dengan menggunakan motor pemberian ibu walaupun ketika sampai  pelajaran hampir mau di mulai. Di sekolah aku tidak tenang dan selalu memikirkan keadaan ibuku. Bahkan sesekali temanku mengejutkan ketika aku dalam lamunan. Sungguh dalam hatiku berkecamuk seolah sesuatu akan terjadi pada ibuku.
Tengggggggg
Bel istirahat pun berbunyi aku segera bergegas ke kanti untuk makan ,maklum pagi tidak sempat untuk sarapan.
“Hai ya kenapa kamu melamun melulu dari tadi ada apa sih? Tanya reza teman sebangku ku bahkan sudah ku anggap seperti adikku
“ ngak kenapa-napa kok rez hanya mikirin ibu di rumah! Jawabku
“ emank ibu kamu kenapa?” Tanya reza kembali
Akun pun menceritakan kepada reza  tentang keadaan ibuku yang bertingkah laku aneh selama satu minggu ini.
 “ emanknya udah kamu Tanya kedaanya? Tanya reza
“Udah tapi dia selalu bilang ngak apa-apa”jawabku
“Mungkin ada masalah sama ibumu?tanya reza lagi
Belum sempat aku menjawab reza bel masuk kelas berbunyi
“ya udah kalo kayak gitu kina sambung nanti kamu kerumah aku ya” seruku kepada reza
“ siap bossssss” jawab rezaaaa
Selama pelajaran berlangsung aku tetap tak busa tenang memikirkan keadaan ibuku bahkan sesekali terlintas di pikiranku ibuku akan pergi meniggalkanku selamanya. Tapi aku berusaha untuk mengghilangkan pikiran itu dengan cara memfokuskan pada pelajaran. Tetap saja tidak bisa. Tak tersa jam pelajaran pun berakhir. Aku langsung bergegas untu cepat-cepat sampai di rumah dan tak sengaja meninggalkan reza.
“ mia tunggu! Teriak reza
“ o iya cepetan” aku pun membalas teriakan itu
Di perjalanan aku pun masih terus memikirkan keadaan ibuku sungguh entak kenapa hari ini firasat itu selalau terngiang-ngian terus sehingga aku hampir saja menabrak  mobil yang ada di depanku. Ketika sampai di rumah Sesuatu yang aneh terlihat di hadapanku. Banyak orang berkumpul di rumahku dan terpasang bendera kuning didepan rumahku. Tanpa piker panjang aku langsung menghampiri rumahku. Dan ternyata apa yang aku rasa kan dan pikirkan dari sekolah ternyata benar . ibuku telah tiada dan hanya menitipkan secarik kertas kepadaku.
“Mia maafin ibu yang selama ini telah bohong kepadamu kalau ibu tak sakit pap-apa sebenarnya ibu mengidap kanker hati dan sudah sangat parah. Ibu tak mau merepotkanmu karena ibu takut kamu kenapa-napa. Selain itu ibu juga mau meminta maaf yang sebesar besarnya sejujurnya kamu bukan anak kandung ibu kamu merupakan anak kakak ibu . dan sekarang dia ada di Malaysia. Maafkan ibu jika selama ini ibu tidak memberitahumu, tapi ibu berharap kamu bisa menjadi anak yang berguna selamat jalan mia ibu selalu menyayangimu. “
setelah membaca surat itu aku langsung seketika pingsan di depan janazah ibu yang ternyata selama ini hanyalah ibu angkatku yang selalu menyayangiku.

Sesungguhnya seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya karena ibu adalah mutiara yang tak ternilai harganya.

Cerita ini terbagi menjadi 31 cerita yang merupakan karya tangan anak-anak kelas XA SMAN 1 Pemali. Cerita ini saya buat untuk mengenang masa-masa indah bersama teman-teman di sekolah. Mudah-mudahan nanti akan saya publikasikan juga Cerpen karya anak-anak XB.


Tetap bersama baygag karena blog ini akan terus di update  :)

Temukan 31 Seri cerita lengkapnya!!! klik di sini

Minggu, 21 Juli 2013

“Simfony Duka”

Posted by Unknown On 15.26

(Cerita 8: Oleh Dessiyanti)

 “Ku takut bahwa aku akan membawamu ke dunia gelap dan sepi” Berbincang-bincang sendiri dalam hati, akan ketakutan yang selama ini terbungkus rapat dalam dekapan ingatannya. Dihadapannya sebuah pohon besar, dengan daun rimbun bergejolak riang karena hembusan angin segar. Tanah gersang dengan sedikit rerumputan, terus lurus dan berkelok.
“Sudah jauhkah aku berjalan? Aku lelah dengan penunjang berjalanku ini.” Kerikil kecil tersepak disetiap langkahnya. Tongkat penunjuk jalannya sedikit demi sedikit tersandung dengan kerikil kecil. Genggamannya terhadap alat penunjang itu erat.
“Kak, mau ke mana? Besok jangan lupa ajari aku membaca huruf-huruf braile ya!” sorak Nesa, adikku. Padahal aku sudah berada 100 meter jauhnya. Nesa, sesosok perempuan kecil periang yang juga sama dengan keadaanku. Yah keadaanku di mana bagiku tanganku ini sama dengan penglihatan kalian.  Nesa adikku selalu bersemangat dalam mengetahui dunia luar, meskipun ia tak dapat melihat dan memandangnya secara langsung dan hanya secerca rangkaian imajinasi saja yang ia lihat.
Setetes air tak cukup membasahi genggamanku terhadap tongkat yang ku pegang. Tiba-tiba air mataku jatuh..
Kalimat yang semula ku bayangkan, terpelik kembali dalam benakku. “Ku takut bahwa aku akan membawamu ke dunia gelap dan sepi”.
Nesa seorang adik yang ku banggakan, setiap ku menyentuh wajahnya. Setiap ku gengam tangannya, tersirat dalam batinku, hmm.. adikku yang periang, terus tersenyum walaupun duka telah terjadi padamu. Hingga saat ini pun, duka itu masih ada. Dari bentuk jemari tangan mungil Nesa, aku bisa merasakan betapa senangnya dia berada sama dengan keadaanku. 
Kokok ayam jantan membangunkanku, “iya aku lupa! Nesa sudah menungguku, kasihan dia.” Ku raih tongkatku, berjalan menuju kamar mandi. Walaupun aku hanya mengandalkan sentuhan kedua tanganku, aku bisa bergerak cepat. Setiap sudut rumahku sudah tak asing lagi bagiku. Itu hal yang mudah, aku bisa membayangkan bentuk dan tata letak setiap jengkal benda di rumahku. Aku sudah mengenal semuanya. Walaupun sinar putih yang berkilau sekalipun tak dapat ku rasakan. Hanya kegelapan yang menghiasi setiap jalanku.
Beberapa buku-buku bertuliskan huruf braile tak lupa ku bawa. “Hari ini Nesa pasti menanti kedatanganku, beruntung aku libur hari ini. Jadi semua beban pekerjaan untuk sementara bisa aku lepas. Aku hanya ingin membuat Nesa bahagia hari ini.” Batin ku ketika beranjak pergi.
Berpedoman terhadap tongkat terbaikku, ku mantapkan diriku untuk meninggalkan rumah. Kepergianku membawa hal yang berarti, ku harap..
Tibalah ku di seberang rumah orangtuaku. Rumah di mana dulu aku dibesarkan dan dididik hingga akhirnya aku bisa membawa diriku ke dalam keramaian masyarakat  yang penuh sesak dan sibuk akan kehidupan dunia.
Langkah tongkatku tiba di depan rumah masa kecilku, tampak sunyi di dalam. Ku coba dekatkan telingaku lebih dekat ke pintu. Tapi juga tak ada tanda-tanda orang di dalam. “Tok..tok..tok,” ku gunakan tongkatku secara perlahan. Ku panggil ibu dan Nesa “ ibu…! Nesa…!” tapi jawaban tak kunjung ku dengar.
“Kemana gerangan ibu dan Nesa pergi?” Nesa, adik kecilku yang ku pikir akan sangat menanti kedatanganku. “Kemana dia?”
Semua bayangan negatif membuyarkan pikiranku mengenai ketakutan ku terhadap kegelapan dan sepi sunyinya dunia. Tapi hatiku risau, tanpa kabar, tanpa jejak sedikit pun. Orang tua dan adikku tiba-tiba menghilang.
“Dek Tika.. Dek Tika..” Tegur tetangga orang tuaku. ”Ini ada pesan dari ibu, katanya Dek Tika di suruh langsung ke rumah sakit Swasta Nusantara.”
Teguran itu mengagetkanku sesaat. “Kecelakaan..? bencana..? aarrghh..” otakku dipenuhi dengan segala kemungkinan terburuk terhadap keluargaku.
***
“Emm, maaf..” tak sengaja sikutku menyenggol seorang laki – laki yang bisa aku rasakan melalui sentuhan kasar tangannya. Tongkatku hampir terjatuh, aku terlalu terburu – buru. Keluargaku ada di kamar atas bernomor 109. Jatungku berdegup kencang, tongkatku terus menuntun kakiku melangkah tanpa mengenal ada apa di depannya.
“Ayah, Ibu, Nesa!” Spontan aku memanggil mereka.
Tampak di hadapanku, ibuku tersenyum bahagia, ayah juga merasa gembira, demikian pula dengan Nesa. Aku tak mengetahui akan hal itu, yah itu karena aku tak bisa melihat.
“Alhamdulillah Tika.. ayahmu sekarang sudah bisa berjalan, maaf tadi Ibu tidak mengabarimu. Soalnya Ibu juga mendapat kabar ini mendadak dari tempat ayah terapi pagi ini.” Senyum bahagia menyertai perkataannya.
“huh!” ternyata sayupan melodi indah yang ku dapat di rumah sakit hari ini. Ku peluk ayahku, dekapan hangat ku rasakan darinya. Perasaan bahagia menenangkan batinku.
“Nesa! Hari ini kakak bawa buku brailenya. Nesa  bawa pulang yah, kita belajar bersama-sama di hadapan ayah lagi.” Nesa pasti mau kan?”. Ku rasakan Nesa yang masih bersemangat. Ayah diperbolehkan berada di rumah selamanya, dunia gelapku tiba – tiba menjadi bersinar. Pikiran bahagia bersama kembali.
Pertigaan itu, membuatku ingat akan kejadian kemarin, demikian pula dengan masa bahagia kebersamaan di hari itu. Mataku berkedip, tak kuasa ku menahan tangis. Nesa seorang adik yang paling ku sayangi. Pertigaan jalan itu telah mengambil kenangan manis masa depanku bersama Nesa.
Diaryku pun hampir semuanya lembab karena tetesan air mata yang terus membasahi pipiku. Dunia yang gelap dan sunyi yang ku takutkan akan terjadi dalam hidup Nesa, kini telah hilang. Aku yakin sekarang Nesa telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari kegelapan dan kesunyian dunia.



Dear Diary,
Nesa adikku tercinta,
kini kau tidak perlu takut akan dunia gelap dan sunyi. Kakak yakin, kau pasti akan mendapatkan hidup kekal yang lebih indah. Maaf, kakak belum bisa mengajarkanmu membaca huruf braile. Kenangan indah itu tidak akan kakak lupa.. Nesa adikku tersayang, belum cukup banyak yang kau rasakan oleh sentuhan tangan mungilmu. Tapi pertigaan itu, telah memperbaikinya. Semoga ini jalan yang terbaik dari yang Maha Kuasa. Agar kau tidak merasakan seperti apa pahitnya kehidupan di dunia, senyum manis terindahmu di pertigaan itu… tak kan pernah luput dari memory indah bersama kita dulu.  ;.(

***


Cerita ini terbagi menjadi 31 cerita yang merupakan karya tangan anak-anak kelas XA SMAN 1 Pemali. Cerita ini saya buat untuk mengenang masa-masa indah bersama teman-teman di sekolah. Mudah-mudahan nanti akan saya publikasikan juga Cerpen karya anak-anak XB.


Tetap bersama baygag karena blog ini akan terus di update  :)

Temukan 31 Seri cerita lengkapnya!!! klik di sini

Namina Andriani

Posted by Unknown On 15.11

(Cerita 7: Oleh AVIONITA PRAMESARI)

Aku menangis dalam diam. Mereka sama sekali tidak mendengar rintihan hatiku. Suara pecah lelaki itu membuat sang perempuan menangis. Apa-apan ini? Kapankah ini akan berakhir? Kapan peperangan yang memuakkan ini  terhenti? Kapan? Ingin rasanya ku hentikan denyut nadi mereka sekarang. Agar hidupku tenang! Hahahaha…
            “Baca cerpen yang ngga bermutu itu lagi!” celetuk Micky, sahabatku. Aku tak menghiraukannya dan kembali menekuni setiap baris kalimat yang ada pada majalah yang aku pegang. Dan kembali terhanyut seakan-akan mengalami hal yang serupa dengan apa yang dialami sang tokoh dalam cerita itu.
            “Lil, kemarin gue udah ngomong sama Bu Ratmi. Nahh.. katanya pengunduran diri gue dari lomba KIR udah disetujuin sama Bapak…… LILA!! LU  TUH  NGEDENGERIN  GUE  NGOMONG  NGGA  SIH??” teriak Micky sambil merebut majalah yang ku pegang.
            “Micky, lu bisa ngomong pelan-pelan ngga sih? Udah tau gue lagi konsen baca nih cerpen, ngga menghargai gue banget sih jadi orang!” seruku jengkel sambil mengambil cerpen ditangannya.
            “Iyaiya.. maaf Lil. Soalnya gue nih mau curhat sama lu. Ehh lu nya ngga denger, kan sebel jadinya!” kata Micky dan langsung duduk disebelahku. Segera ku tutup majalahku dan menghadap kearahnya. “Iyaa sayang.. maaf, mau curhat apa? Lila si cewe imut siap mendengarkan,” kataku tersenyum simpul.
            “Ngga ada sih. Cuma mau ngasih tau aja kalo pengunduran KIR-ku udah diproses sekarang,” Micky tersenyum dan aku menganga. “Lhoo.. ngga mau kamu pikir-pikir dulu Mick? Sayang lho kesempatan bagus dibuang sia-sia?”
            “Lu kan tau kalo harinya bertepatan dengan berangkatnya gue keMalang. Udahlah, kalo umur gue panjang, tahun depan gue bisa ikut lagi,” katanya sambil tersenyum. Sahabatku yang satu ini sungguh membuatku bangga. Dia cantik (sebenarnya, andai saja sifat tomboynya ia buang), pintar (ikut lomba kemana-mana dan selalu membawa piala pulang kesekolah), bijaksana (dapat memecahkan masalah dengan tenang), dan asyik. Selama pertemanan kami, hampir tidak pernah aku melihatnya menangis.  Masalah yang menghadangnya selalu ia hadapi dengan senyuman. Dia bisa dikatakan idolaku yang kedua setelah cerpenis itu, Namina Andriani.
            Teeeetttt… bel sekolah  menjadi penutup perbincangan kami kali ini.

JJJ
            “Lil, lu dimana sekarang?” Tanya suara yang ada diujung sana.
            “Ditempat biasa. Lu lama banget sih Mick?” Tanya aku heran. “Bentar lagi gue nongol kok. Pecaya dehh,”
            “Taraaaa.. gue disini Lila,” teriak Micky dari belakang. “Iyaa.. gue udah tau kok. Tuh didepan ada kaca, jadi ngga kaget lagi guenya, hehehehe” kataku terkekeh. “Ehh.. kok mata lu sembab sih Mick? Lu habis nangis?” tanyaku heran.
            “Oohh.. nngg.. aahh.. ngga kog ciin.. sebelum gue kesini tadi, gue ketiduran. Yahh gini lah jadinya,” senyum Micky.
            “Ohh.. karena itu lagi?” kataku kesal dan kembali membaca cerpen yang selalu aku bawa kemana-mana itu.
            “Cerpen norak itu lagi! Lama-lama bisa gue robek juga tuh cerpen. Kenapa sih lu suka baca cerpen cengeng itu? Mana pengarangnya ngga jelas lagi, siapa tuh namanya? Namuna..” “Namina Andriana..” potongku cepat.
 “Iyaiya.. whatever lah. Mau namina kek, namuna kek, terserah, gue ngga perduli. Yang pasti tuh cerpen udah buat lu buta. Lu hanya terpaku dengan tuh cerpen ajah, ngga ngeliat apa yang lagi terjadi di belahan bumi yang lain! Pengarang ngga jelas itu….” Belum sempat Micky menyelesaikan ceramah ngga bergunanya itu sudah keburu aku potong. “Ehh.. lu boleh ngehina gue! Tapi jangan pernah lu ngeremehin idola gue. Hati lu aja yang tertutup sampe ngga terhanyut liat cerpennya!” kataku membludak. Segera kutinggalkan Micky sendiri disana.
“Sehebat apa sih Namina itu sampe bikin lu tega ninggalin gue disini? Gue juga bisa kayak dia!” teriak Micky. Segera kututup telingaku dan berlari sekencang-kencang untuk menjauh dari tempat memuakkan ini.
Micky.. arrghh.. aku tidak kenal dengan Micky! Siapa dia? Seenaknya saja menjelek-jelekan idolaku! Dia pikir dia siapa?

JJJ
            1 minggu sudah lewat setelah kejadian aku dengan Micky kemarin, dan karena itu pula aku dan Micky ngga teguran. Ngga enak juga rasanya. Sepi, semuanya dilakukan sendiri. Dan setelah merenungi semua yang terjadi, memang sepertinya itu salahku. Aku yang dulu (sebelum membaca cerpen karya Namina Andriana) selalu ada buat Micky. Tapi sekarang, yahh.. aku memang sudah merasakan perubahanku. Awalnya kukira ini tidak akan membawa dampak yang negative untuk kami. Ternyata salah. Yahh.. mungkin hari ini aku harus meminta maaf kepadanya.
            Micky dimana yah? Tanyaku dalam hati sembari celingak-celinguk melihat kedalam kelas.
            “Ehh.. Lil, lu nyari Micky yahh?” Tanya Windy, salah satu teman sekelasku. Aku mengangguk mantap.
            “Tadi waktu gue lewat rumahnya, kayanya rumahnya tuh sepi banget. Tapi mobil bokapnya sih ada, dan setelah gue tanya dengan satpamnya, katanya ada kejadian besar dirumah itu,” jelas Windy dengan wajah seriusnya.
            Tumben-tumbenan rumah Micky kaya gitu. Terus kejadian besar? Kejadian apa yah? Tanyaku pada diri sendiri. Ahh.. sudahlah, ntar aku Tanya langsung sama Micky ajah.
            Teeettt.. bel masuk berbunyi, tapi Micky masih belum nongol juga. Kemana tuh anak? Entah mengapa, firasatku menjadi buruk.
            Pelajaran FISIKA, MATEMATIKA dan BAHASA INGGRIS telah aku lewati. Tetapi tidak ada satu materi pun yang aku pahami. Pikiranku tertuju hanya pada sahabatku, Micky. Apa yang terjadi dengannya? Pokoknya pulang sekolah ini aku harus kerumahnya.

JJJ
            Lhoo.. satpam rumah ini dimana yah? Masa ngebiarin gerbangnya terbuka? Pikirku saat sampai didepan rumah bernuansa hijau itu.
            Ya sudahlah. Pak satpam tidak mungkin marahin aku kalo aku masuk tanpa izin, kan dia udah kenal aku, kataku dalam hati dan langsung melangkahkan kaki masuk kedalam rumah itu.
            Pintunya tumben ngga dikunci? Terus kok ngga ada orang yah? “Assalamu,alaikum..” salamku sembari mengetok pintu yang sudah terbuka itu. Tidak ada jawaban, aneh.
            “Assalamu’alaikum.. mii…” PRAAANGG.. bunyi piring pecah langsung membuatku merinding. Segera ku berlari menuju kamar Micky yang berada dilantai atas.
            “KAMU WANITA YANG TIDAK BERGUNA! RUMAH TANGGA INI HANCUR KARENA KETIDAKBECUSAN KAMU!....” suara lelaki yang sudah cukup kukenal itu sangat jelas terdengar dan juga diiringi dengan suara tangisan perempuan. Mungkin ayah dan ibu Micky. Tapi apa yang terjadi dengan mereka? dan Micky? Aahh.. bagaimana dengan dia. Segera kupercepat langkahku.
            Pintu kamarnya tidak tertutup dan tanpa ba bi bu aku langsung masuk kedalam.
            Banyak kertas yang berserakan. Dan komputernya belum dimatikan. Tampak jelas dimataku apa isi computer itu. Segera ku ambil salah satu kertas yang telah di print untuk memperjelas apa yang aku lihat. Sebuah cerpen yang baru kemarin aku baca beserta nama penulisnya tertera jelas disana. Namina Andriana. Segera kulihat isi computer itu, sambungan cerpen yang kemarin. Aku terkejut, jadi selama ini Namina Andriana adalah Micky dan Micky adalah Namina Andriana. Ya Tuhan…
            “Apa-apan ini? Kapankah ini akan berakhir? Kapan peperangan yang memuakkan ini  terhenti? Kapan? Ingin rasanya ku hentikan denyut nadi mereka sekarang. Agar hidupku tenang!” kata-kata itu. Micky.. segera aku menoleh dan mendapati dia yang sedang menatap kosong kearahku.
            Segera kuhamburkan dia kedalam pelukanku.
            “Lila.. sekarang kamu tahu semuanya. kamu sudah melihat apa yang terjadi dengan keluargaku sebenarnya. Kamu sudah tau….” Micky pun untuk pertama kalinya menangis dihadapanku.
            “Sudah Mick. Aku mengerti, Micky-ku kok kenapa jadi cengeng gini sih? Ayoo.. semuanya harus dihadapi dengan senyuman,” bujukku sembari melepaskan pelukanku. Micky pun tersenyum.
            Aku masih berusaha menutupi keterkejutanku. Masih banyak pertanyaan melayang dikepalaku. Besok akan kucoba tanyakan kepada Micky, yahh besok saja. Masalah yang harus aku hadapi sekarang adalah bagaimana caranya membuat Micky menjadi tenang.

JJJ
            “Lila……” teriak Micky sumringah, seakan kemarin tidak terjadi apa-apa. Tapi baguslah…
            “Cerpen lu,” kataku terkekeh sambil mengacungkan majalah yang ku pegang.
            “Masih dibaca juga?” Tanya Micky heran.
            “Habisnya idola gue yang bikin, Namina Andriana…” teriakku keras. Micky duduk disebelahku dengan kesal.
            “Ehh.. gue masih butuh penjelasan dari lu!” kataku dan menggeser dudukku agar lebih dekat dengannya.
            “Kayanya gue tau dah apa yang mau diperjelas.. kabur ahh,” segera ku tarik tangannya. “Enak ajjah lu mau kabur. Jelasin ke gue semuanya dulu baru lu boleh kabur,”
            “Harus yah?” aku hanya diam dan memperkeras genggamanku.
            “Yaudah.. gini, semuanya bermula dari ketahuannya bokap gue selingkuh. Mulai dari situ, bonyok sering berantem ngga jelas gitu, lha gue sebagai anak tunggal bingung mau cerita sama siapa. Maaf yahh, ngga keinget sama lu,” kata Micky terkekeh. Aku tidak mengubrisnya, mataku menatap tajam kearah matanya seakan meminta penjelasan lebih lanjut.
            Micky tertunduk, “Gue bingung waktu itu Lil. Gue ngga tau lagi harus berbuat apa. Lu tau kan kalo gue suka nulis? Nahh.. jadi apa yang gue alami itu gue tulis dikomputer kesayangan gue. dan setelah gue pikir-pikir, mending cerita gue itu di cerpenin ajah. Bukan karena butuh uang lho? Malahan uang yang dikasih ngga gue terima karena gue Cuma mau berbagi cerita ajah sama orang lain. Soal nama penulisnya, lu pasti tau karena apa,” jelas Micky.
            Aku hanya bisa mengangguk. Tapi ada satu pertanyaan mengganjal pikiranku, “Trus kenapa lu marahin gue saat gue lagi baca cerpen itu?”
            “Gue awalnya seneng ngeliat lu suka baca cerpen gue. seneng banget. Tapi lu selalu ngga inget waktu kalo udah mulai baca, bahkan kalo gue lagi ngomong ngga lu dengerin. Lu berubah menjadi orang lain Lil. Dan gue ngga suka! Malahan gue sempet berpikir untuk ngga nulis cerpen lagi, biar lu jadi LILA GUE yang dulu.. LILA YANG SELALU ADA BUAT SI CEWEK TOMBOY. LILA YANG SELALU MENGERTI MICKY. Udah itu ajah,” kata Micky dengan mata berkaca-kaca. Aku terkejut, apakah aku berbeda sekarang? Ahh.. baru sekarang aku mengerti.
            Segera kupeluk sahabatku itu, “Maafin gue Mick, gue ngga nyangka ternyata gue udah kelewatan. Gue ngga bakalan gitu lagi kok,”
            “Janji…” kata Micky setelah melepaskan pelukanku dan mengacungkan jari kelingkingnya.
            “Janjiii..” kataku semangat dan menyambut jari kelingkingnya.
            Semilir angin mengalun di rok sekolah yang kepanjanggan buatku.
Teeeetttt.. bel masuk seakan menjadi penutup perjanjian yang telah kami buat. Senyum mengembang diwajahku dan Micky seakan berusaha mengatakan pada dunia jika kami baik-baik saja dalam menghadapi masalah yang ada didepan mata saat ini.

JJJ

Ody atau Oldy???

Posted by Unknown On 15.00

(Cerita 6: Oleh Agus Diemas Prayoga)

Disuatu siang yang panas, oldy yang sedang belajar dihentikan sejenak oleh panggilan temannya hafiz, lalu ia keluar untuk menemui hafiz, tetapi saat ia keluar ternyata hafiz tidak ada, oldy pun heran dan ia lalu mencari hafiz di sekeliling rumahnya, tetapi hafiz tetap tidak ada. Ia pun bingung dan ia buru-buru masuk kerumah dan langsung menghubungi hafiz.
“fiz, kenapa tadi kamu memanggilku dirumah, dan langsung pergi begitu saja?”
Hafiz bingung dengan perkataan oldy, “ lho, memangnya kapan aku memanggilmu hari ini aku seharian ada dirumah, jadi tidak mungkin aku memanggilmu dirumahmu” jawab hafiz.
“ ooh mungkin tadi hanya khayalan aku saja, maaf ya sudah mengganggu”
Setelah menghubungi hafiz  oldy kembali belajar, tetapi tetap saja oldy  masih bingung dengan kejadian tadi.
Keesokan harinya oldy pulang sekolah, dan ketika ia mau masuk kerumahnya, ia kembali mendengar suara orang memanggilnya, dan dengan secepat kilat ia keluar rumah dan mencari siapa sebenarnya yuang memanggil namanya itu. Tetapi tetap saja ia tidak menemukan siapa orang yang memanggilnya itu.
Setelah itu, oldy langsung mandi dan makan siang, lalu kemudian ia pergi kerumah hafiz untuk menceritakan hal tersebut. Setelah mendengarkan cerita dari oldy, hafiz pun bingung siapa sebenarnya orang yang terus memanggil oldy setiap hari.
“dy, jangan-jangan yang memanggilmu itu bukan manusia”.
“makk…..makk…maksud mu?”, tanya oldy yang mulai agak ketakutan.
“maksud aku, jangan-jangan yang memanggilmu beberapa hari adalah hantu”.
Spontan, wajah langsung oldy memucat setelah mendengarkan perkataan hafiz. “Jadi, bagaimana ini??” tanya oldy kembali kepada hafiz.
“baiklah, kita selidikin ini besok!!”, jawab hafiz.
Keesokan harinya pada hari minggu pagi,  mereka mulai mempersiapkan alat-alat yang ingin mereka gunakan dalam penyelidikan tersebut. Setelah alat-alat yang mereka perlukan lengkap, mereka mulai bersembunyi di dekat tumbuhan pagar yang ada di depan rumahnya oldy. Tetapi walaupun  mereka sudah menunggu sampai sore hari tetap saja orang yang mereka cari tidak ada.
“Apa mungkin dia tahu kita akan menunggunya maka ia tidak datang?”, kata hafiz.
“entahlah aku juga tidak tahu”, jawab oldy.
Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat, dan memulai lagi penyelidikan di keesokan harinya.
Esoknya setelah pulang dari sekolah mereka kembali memulai penyelidikan mereka tapi sama seperti kemarin, walaupun hari sudah sore tetap saja orang yang mereka cari itu tidak datang. Tapi saat mereka ingin menyudahi penyelidikan itu tiba-tiba ada orang yang berteriak “Odyyy”. Mereka pun terkejut, dan setelah mereka amati ternyata suara itu adalah teriakan seorang pria yang merupakan sopir  bus karyawan. Mereka pun berlari dan berteriak-teriak memanggil bus tersebut. Mendengar teriakan kami supir bus itu pun memberhentikan busnya.
Setelah bus berhenti hafiz pun bertanya kepada sopir bus itu “pak kenapa akhir-akhir ini bapak terus-terusan memanggil nama teman saya, tapi ketika ia keluar dari rumah, bapak malah pergi?”
Mendengar pertanyaan hafiz, sopir bus itu pun bingung “emang siapa teman kamu itu?” sopir itu balik bertanya.
“teman saya itu namanya oldy”, kata hafiz.
Tiba-tiba supir itu tertawa “hahahaha………….yang saya panggil itu ody teman saya, bukan oldy teman kamu nak”, jawab supir itu.
“Jadi yang bapak panggil itu ody……, saya kirain saya”, kata oldy sambil mengusap-usap kepalanya karena malu.
“hahahaha jadi kamu pikir saya memanggil kamu yaa, saya memanggil ody setiap hari ini karena sekarang ia sudah bekerja di tempat saya, jadi setiap hari saya harus menjemputnya untuk pergi bekerja”, jelas supir bus itu.
Lalu oldy dan hafiz bersama semua orang yang ada di bus itu tertawa terbahak-bahak.
Jadi yang benar itu ody, bukan oldy.


Cerita ini terbagi menjadi 31 cerita yang merupakan karya tangan anak-anak kelas XA SMAN 1 Pemali. Cerita ini saya buat untuk mengenang masa-masa indah bersama teman-teman di sekolah. Mudah-mudahan nanti akan saya publikasikan juga Cerpen karya anak-anak XB.


Tetap bersama baygag karena blog ini akan terus di update  :)

Temukan 31 Seri cerita lengkapnya!!! klik di sini

Site search

Free Backlinks